Saya meneguk sisa terakhir dari minuman saya yang berupa air putih atau lebih tepatnya air bening atau lebih kerennya air mineral. Terserah!
Saya memandangi sekeliling ruangan rumah yang masih bisa dijangkau oleh sisi mata saya, sepi dan sunyi itu begitu jelas terekam. Tuk..bunyi yang terdengar saat gelas beradu dengan wajah meja.
Satu gelas telah kosong akan tetapi kerongkongan ini masih terasa tercekat, apakah saya masih haus??
Gelas yang kosong kembali saya isi dengan cairan yang berwarna bening itu, kemudian tanpa banyak reaksi kembali gelas menjadi kosong.
Saya diam begitu pun gelas…
Saya melihat ada kesamaan antara saya dengan si gelas kosong…
Tapi apa???
Saya pandangi gelas kosong itu…oke, saya tidak akan mengajak berbicara si gelas kosong itu karena saya belum gila sampai saat ini…
Kerongkongan saya masih dalam keadaan tercekat. Ada apa ini? Saya tidak ingin berlama-lama dengan gelas kosong karena saya takut akan mengajak gelas itu berbicara pada akhirnya. Saya tidak ingin GILA! Untuk itu saya tidak acuhkan kerongkongan, biarkan dia menjerit perih saya tidak peduli. Pokoknya saya tidak ingin kerongkongan membuat saya berbicara dengan gelas kosong.
Curiga saya bukanlah kerongkongan yang menjerit tercekat tapi bagian lain dalam diri saya yang mengkambinghitamkan kerongkongan.
Saya berjalan ke arah kamar…hening tidak ada suara. Saya benci jika semuanya membisu, dinding, pintu, kasur, cermin, buku, semuanya diam.
Yaah tentu saja mereka diam karena di dalam ruangan ini hanya saya yang memiliki pita suara, lainnya tidak.
Terimakasih saya masih ingat akan hal itu, berarti saya belum gila!
Saya beralih ke arah komputer yang masih dalam keadaan mati…yah mati..seingat saya komputer bisa bernyanyi, maka dari itu dia harus dihidupkan. Tanpa pikir panjang saya tekan tombol power on…menyala!! Saya bahagia, setidaknya akan ada suara selain suara saya.
Melalui jari yang mendekap erat mouse saya arahkan kursor ke satu titik bernama winamp… dialah bagian komputer yang katanya bisa mengeluarkan suara dengan cukup meng-klik tanda play .
Hanya dalam hitungan detik terdengar suara yang mengalun begitu lembut. Pikir saya tenang. Saya pun bertanya-tanya siapa yang telah mengeluarkan keselarasan musik dari titik winamp itu.
Saya baca…”Sigur Ros” …oh ternyata itu, baiklah…
Saya diam beberapa saat untuk menikmati kebersamaan saya dengan suara lain selain suara saya.
Kemudian…saya ingat saya,saya ingat keluarga saya, saya ingat teman saya, saya ingat kucing saya, pokoknya saya ingat semuanya kecuali satu pernyataan dari salah seorang teman saya
“katanya orang bisa niat bunuh diri ketika mendengarkan lagu itu!”
Saya beranjak dari depan komputer , sekarang saya sangat membutuh kan si gelas kosong pikir saya. Saya pun berjalan ke ruangan tempat saya meninggalkan si gelas kosong itu sendirian.
Ada…si gelas kosong masih berdiri di tempatnya tadi, di atas wajah meja.
Saya raih si gelas kosong, saya bawa ke dalam kamar.
Sejenak saya diam mematung.
Praaaankkkkkkk…tiba-tiba si gelas kosong terlepas dari pengangan tangan.
Pecahan-pecahan kaca bagian dari si gelas kosong telah masuk ke sebahagian dari bagian bawah tubuh saya.
Taklama warna merah yang biasa dipanggil darah itu pun muncul dari balik kulit –kulit kaki saya.
Tidak indah rasanya jika hanya di kaki, darah itu harus ikut mewarnai tangan saya biar serasi, maka dari itu saya ambil pecahan si gelas kosong untuk kemudian ditorehkan di pergelangan tangan.
Yaah..darah itu pun telah muncul dari balik kulit pergelangan tangan saya.
Si gelas kosong itu akhirnya masuk juga ke dalam tubuh saya, kami telah menyatu.
Saya jadi mengerti apa rasanya menjadi kosong tanpa harus mengeluarkan suara untuk bertanya kepadanya…karena saya tegaskan sekali lagi bahwa saya tidak GILA!!!
…dan sekarang semuanya telah dipenuhi oleh warna merah…
Terakhir hanya itulah yang bisa saya ingat.
(Sayaciw-190410)
Sebuah cerita pendek pertama saya di tahun 2010
-semua hanyalah fiktif belaka jika ada kesamaan tempat, peristiwa, dan lain-lain hanyalah berupa satu ketidaksengajaan yang tidak direkayasa-
